Tuesday 07th of September 2010

news blog logo
news menu leftnews menu right
top news photography M. Muaz Munawwar sedang memimpin aksi KAMMI Aceh

M. Muaz Munawwar, ketua KAMMI Aceh (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Daerah Aceh) periode kepengurusan 2009-2011. Bersamanya KAMMI terus melakukan pengawalan terhadap pemerintah khususnya pemerintah Aceh. KAMMI Aceh, tidak hanya berjuang sebagai parlemen jalanan, tetapi juga melakukan pencerdasan-pencerdasan politik bagi pemuda muslim di Aceh. Read more...
Home OPINI Opini Members TAK SEKEDAR TADARUS
TAK SEKEDAR TADARUS Print E-mail
Written by Administrator   
Sunday, 12 July 2009 11:04

Oleh Andi Tharsia
Anggota KAMMI Aceh dan Aktivis Remaja Mesjid Darul Falah Kp.Pineung Banda Aceh

Bulan Ramadhan sebagai bulan yang penuh keberkahan serta disebut pula Syahrul Quran atau bulan turunnya Quran di malam Lailatul Qadar, dimanfaatkan oleh sebagian besar umat muslim di dunia untuk mentaqarrubkan diri pada Allah swt. melalui tadarus Quran.
Dalam kurun waktu terakhir, tadarus dipahami sebagai usaha menghabiskan ber-juz-juz bacaan Quran dan berusaha meraih gelar khatam. Ini sungguh suatu cita-cita mulia, tapi jika tidak diluruskan akan menjadi asumsi yang tidak baik untuk eksistensi Al-Quran sendiri sebagai petunjuk bagi umat manusia untuk meraih kebahagiaan baik di dunia juga di akhirat.

 


Pasalnya, persepsi bahwa kesuksesan seseorang yang dekat dengan Alquran hanya dengan mengkhatamkan Al-Quran, juga tidak baik untuk dipertahankan. Artinya, mengkhatamkan Al-Quran namun tidak menambah keimanan dan tidak kembali meneruskan membaca Al-Quran selepas Ramadhan nanti, maka sama saja dengan mengibaratkan Al-Quran seperti peribahasa “habis manis sepah dibuang”, yang hanya dipakai (dibaca) di saat bulan Ramadhan saja, karena suasana yang kondusif untuk itu, namun setelahnya Al-Quran kembali diletakkan di tempat-tempat yang tinggi di rumah-rumah hingga usang. Naudzubillahimindzalik.

 


Mengkhatamkan Al-Quran seharusnya juga menambah ketaqwaan serta tingkat kebijaksanaan sikap, spiritual dan kecerdasan pemikiran yang sesuai dengan tuntunan dari Al-Quran. Pengkajian-pengkajian sudah saatnya digalakkan agar kita tidak salah mentafsir seperti apa sebenarnya Al-Quran menyuruh manusia dalam menjaga keseimbangan bumi serta alam semesta yang begitu luas.


Pemahaman Arti Tadarus
Tadarus bermakna membaca, mengkaji, menelaah hingga menimbulkan bagi tiap pribadi yang mengerjakannya, suatu kesan yang mendalam terhadap suatu pesan yang disampaikan oleh Al-Quran kepada seluruh umat manusia di muka bumi ini. Terkadang didapati ayat-ayat bagi orang beriman juga ada ayat-ayat yang menekankan kekhususan perhatian pada golongan tertentu seperti golongan munafik dan terkadang pula didapati ayat-ayat untuk seluruh umat manusia yang bersifat umum.


Al-Quran membimbing manusia untuk lebih mengenal siapa dirinya dan siapa yang menciptakannya, agar gejolak kesombongan dapat terkikis dari hati manusia itu sendiri. Hikmah akan didapati dengan mengkaji apa yang disampaikan Alquran, karena sesungguhnya Al-Quran sangat terpercaya untuk dijadikan sebagai sumber rujukan, bukan hanya sekedar membaca dan mengkhatamkannya tanpa memandang segi pembelajaran dari Al-Quran.


Jika hal ini terus terjadi, maka dikhawatirkan akan melemahkan kembali identitas umat muslim yang dulu dikenal sebagai umat yang gigih dalam meraih kegemilangan ilmu. Jangan heran jika saat ini Barat memegang tampuk keilmuan, padahal dulu mereka belajar ke peradaban maju umat Islam seperti di Andalusia, Cordoba dan Toledo. Ini akibat pengkajian terhadap Al-Quran masih lemah di kalangan umat dan moment Ramadhan seperti saat ini amat disayangkan jika hanya dipakai sebagai tadarus dalam artian yang sempit.
Kembali pada pesan-pesan Al-quran yang amat rugi jika hanya dibaca saja dengan tadarus ber-juz-juz tapi tidak mendapatkan pengaruh apapun, maka jika demikian bukan tak mungkin keberkahan juga akan lenyap di suci ini. Sepertinya, setting tadarus sudah harus dirubah. Tidak dari sekedar membaca, tapi sudah beranjak pada diskusi-aplikatif sesuai Al-Quran dan Sunnah sehingga cahaya Islam akan kembali berpendar seperti yang diharapkan.


Kesan tadarus seperti biasa bukan tidak mungkin bisa menjadi tradisi yang mengakar setiap datangnya bulan suci Ramadhan. Bayangkan, jika arti tadarus dikembangkan dengan makna luas yaitu dengan melibatkan segala aktivitas pembelajaran di dalamnya, dilakukan oleh umat muslim khususnya di Aceh setiap kali datangnya Ramadhan dengan menghidupkan kembali masjid sebagai basis studi umat Islam, maka akan didapati kekuatan Islam yang sangat luar biasa. Apalagi dengan kesempatan waktu luang yang ada, seharusnya tidak hanya dipakai untuk mengkha- tamkan Quran dengan membacanya saja, tapi sudah merambah pada penelaahan terhadap pesan-pesan yang digariskan oleh Al-Quran dengan pembelajarembelajar dari berbagai usia. Betapa kekuatan umat Islam sesungguhnya amatlah kuat.


Selain perlu dilakukan tadarus Al-Quran, hendaknya juga dilakukan “tadarus” terhadap krisis kemanusiaan yang ada pada daerah Aceh tercinta ini. “Tadarus-tadarus” sosial yang bisa memberikan sebuah solusi sehingga generasi mendatang tidak lagi dihadapkan dengan persoalan yang masih menjadi perbincangan dari tahun ke ta- hun, namun para generasi muda sudah dipersiapkan untuk cerdas dalam menyusun for mula dalam menghadapi masalah yang sama.


Krisis bangsa yang terus menerpa baik di segmen nasional maupun di daerah tentu membutuhkan formula itu. Formula tersebut akan didapat dengan terus melakukan “tadarus-tadarus” yang berisi pengkajian masalah, telaah ilmiah hingga amaliah dan diharapkan mampu menjawab persoalan yang terus saja menimpa bangsa dan negara ini.
Persoalan bangsa tersebut sebenarnya ada pada Al-Quran jika kita teliti dalam membaca pesan Ilahiah darinya. Jawaban-jawaban persoalan itu sudah empat belas abad lampau telah dijelaskan secara gamblang, dan tugas manusia untuk memahami dan mengolah data yang telah diberikan Al-Quran menjadi satu rumusan jawaban untuk menjawab persoalan bangsa ini.


Jadi, makna tadarus sudah sebaiknya disosialisasikan secara jujur. Tidak di persempit, dan tidak diberi pengertian muluk. Sebenarnya jika kita kembali pada makna surat Al-Alaq yang dimulai dengan Iqra’, sebenarnya kita sudah diperingatkan oleh Allah Swt. untuk terus melakukan “tadarus-tadarus” yang tidak sebatas pembacaan Al-Quran secara lahiriah, akan tetapi juga cermat melakukan “tadarus-tadarus”, melihat fenomena alam yang begitu luas dengan batiniah, dari sosio-antropologi hing- ga mencakup perekonomian dan pemerintahan.


Semangat untuk terus melakukan tadarus juga harus pula dijaga agar ciri khas umat Islam sebagai umat yang intens terhadap khazanah keilmuan tidak mudah luntur dengan berbagai kemunduran yang selama ini umumnya terjadi di berbagai negara yang berpenduduk muslim. Sudah saatnya semangat itu tetap di pertahankan dan terus -menerus melakukan “tadarus-tadarus”secara komprehensif dan objektif. Tidak hanya sekadar membaca Al-Quran, tapi juga mengamalkan apa yang tersirat dan tersurat di Al-Quran sebagai kitab suci yang tetap terjaga hingga akhir zaman. Hanya kepada Allah Swt. saya memohon ampun. Wallahu’alam bisshowab.

Last Updated on Friday, 30 April 2010 10:46
 



Powered by Joomla!. Designed by: oscommerce hosting hosted email Valid XHTML and CSS.